Perang Hunain: Kekuatan Musyrikin Tercerai Berai Hingga Melarikan Diri

0
46

LDIIKediri.com, Pada delapan Hijriah, Quraisy Mekah sebagai kekuatan utama berhasil dibebaskan oleh kaum Muslimin. Manusia di sekitar Mekah berbondong-bondong masuk ke agama Allah. Di Hunain, yang berdekatan dengan Mekah, kaum Hawazin yang merupakan sekutu terbesar dan kekuatan terbesar setelah Quraisy menyaksikan Quraisy takluk pada Islam. Mereka berupaya untuk mempertahankan gengsi dan melawan kaum Muslimin. Rasulullah kemudian berangkat bersama 12.000 pasukan, 2.000 dari mereka adalah kaum Quaisy yang baru masuk Islam. Terjadilah pertempuran di Lembah Hunain pada 10 Syawal tahun 8 Hijriah. Kemenangan diraih kaum Muslimin.

Pada akhir perang Hunain ini, pasukan Musyrikin tercerai-berai. Kekuatan mereka hilang. Persatuan mereka terhina. Sebagian dari mereka melarikan diri ke Tha’if, ke Nakhlah, dan ke Authas. Rasulullah saw, mengirim pasukan dibawah pimpinan Abu Amir Al Asy’ari untuk melakukan pengejaran ke Authas. Kedua belah pihak terlibat dalam baku peperangan selama beberapa saat hingga ahirnya orang-orang musrik itu dapat dikalahkan. Dalam pertempuran itu, Abu Amir Al Asy’ary gugur.

Adapun sekelompok penunggang kuda dari pasukan Muslimin lainya melakukan pengejaran terhadap pelarian orang-orang musyrik yang menuju arah Nakhlah. Duraid bin Ash Shimmah dapat ditangkap dan dibunuh olih Rabi’ah bin Rufai.

Mayoritas pelarian menuju kearah Thai’if. Nabi Muhammad SAW sendiri melakukan pengejaran ke sana setelah menghimpun harta rampasan di Hunain.

Harta rampasan yang diperolih berupa 6.000 orang tawanan, 24.000 unta, 40.000 domba, dan 4.000 uqiyah perak. Rasulullah SAW, memerintahkan agar semua tawanan dan harta rampasan itu dikumpulkan lalu disimpan sementara waktu di Ji’ranah. Beliau menunjuk Mas’ud bin Amr Al-Ghifari sebagai penanggung jawabnya. Harta rampasan ini tidak dibagikan kecuali sepulang dari perang Tha’if.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here