Pendidikan Anak di Masa Pandemi

0
63

Pendidikan Anak di Masa Pandemi

Oleh Imam Ali

Hampir belasan purnama sudah terlewati, banyak yang berharap agar pandemi ini segera berakhir. Pada masa pandemi ini, banyak aktivitas yang terpaksa dibatasi sebagai langkah untuk menekah laju penyebaran Covid-19. Pada sistem pendidikan, diafirmasikan sebuah kebijakan untuk belajar daring dari rumah yaitu Study at Home (Gunawan, 2017). Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan pelajar tetap dapat mencapai tujuan pembelajaran walaupun tidak tatap muka secara langsung.

Pada masa pandemi ini, seorang pelajar berkewajiban mengikuti kegiatan pembelajaran melalui platform daring. Melalui sistem yang baru ini, semua pihak harus beradaptasi agar dapat memaksimalkan proses belajar mengajar sehingga lebih efektif  (Fakhriyani, 2016).

Namun, bukannya antusias banyak pelajar yang memanfaatkan waktu luang dan kebebasan pembelajaran daring untuk malas-malasan, bersosial media, ataupun nongkrong di luar. Bahkan pelajar yang masih remaja terutama yang duduk di bangku Sekolah Dasar menganggap bahwa pembelajaran selama pandemi adalah bagian dari libur panjang sehingga kewajiban untuk belajar sering diabaikan. Tugas-tugas sekolah dibiarkan terbengkalai dan banyak yang menghabiskan waktu untuk bermain, sehingga orang tua pun cukup kesusahan untuk membimbing anak agar disiplin belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Tentu saja, hal ini cukup mengkhawatirkan.

Pandemi yang sudah berlangsung lama, menyebabkan pelajar yang duduk di bangku SD memiliki rasa malas untuk mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru akibat keterbatasan sumber daya sehingga model pembelajaran yang diterapkan cenderung membosankan. Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru pada siswa yang masih anak-anak seperti siswa SD cenderung pembelajara satu arah yang melibatkan orang tua sebagai pembimbingnya. Biasanya guru akan memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa kemudian dikumpulkan dengan mengirimkan kepada guru hasil tugas tersebut. Tentu saja metode ini tidak cukup efektif bahkan sering menimbulkan permasalahan di antara orang tua dan anak akibat kurang tertariknya anak untuk mengikuti pembelajaran yang dibebankan. Oleh karena itu, diperlukan kiat-kiat agar kualitas pendidikan pada anak di masa pandemi tetap terpenuhi melalui penciptaan motivasi yang kuat pada anak untuk mengikuti pembelajaran.

Menawarkan keseruan mempelajari materi dan mengerjakan soal melalui games edukatif pada platform media digital. Saat ini, banyak sekali platform yang menyediakan akses bagi guru untuk lebih berkreasi dalam menerapkan metode pembelajaran. Guru dapat memberikan tugas ataupun soal yang dikemas lebih menarik dengan adaptasi teknologi seperti pada platform game edukatif Quizziz. Dengan game edukatif ini diharapkan anak-anak memiliki minat yang lebih dalam mengerjakan soal sebagai salah satu proses pembelajaran. Bahkan, game edukatif selain dapat membantu pemahaman siswa juga dapat meningkatkan kreativitas siswa. Pada anak-anak kreativitas merupakan aspek penting yang harus diasah dan dioptimalkan (Fakhriyani, 2016).

Memberikan bintang penghargaan juga cara terbaik agar siswa termotivasi untuk pembelajaran tatap muka. Siswa SD merupakan siswa yang masih dalam kategori anak-anak dan remaja sehingga masih sangat menyukai bentuk apresiasi seperti bintang penghargaan. Bintang penghargaan ini dapat ditujukan bagi siswa yang rajin mengerjakan tugas dan disiplin mengikuti pembelajaran. Bintang ini dapat diberikan sebagai apresiasi pada siswa dan diberikan pada waktu penerimaan rapor. Dengan adanya motivasi untuk meraih bintang inilah, siswa SD tertarik untuk mengikuti pembelajaran dan mengumpulkan bintang sebanyak-banyaknya. Sebagai guru, memberikan hadiah kecil sebagai apresiasi bagi siswa juga dapat meningkatkan semangat siswa dalam belajar.

Selama pandemi, siswa cenderung memiliki motivasi belajar yang rendah. Untuk itu, pada proses adaptasi kembali ke sistem pembelajaran tatap muka membutuhkan motivasi yang kuat agar siswa memiliki semangat belajar yang tinggi. Beberapa langkah di atas dapat digunakan sebagai upaya untuk memacu semangat belajar siswa untuk mengikuti pembelajaran. Dengan semangat belajar yang tinggi, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal. Dampak akhirnya adalah mutu pembelajaran yang baik sehingga menciptakan pendidikan yang berkualitas.