HomeDPP LDIIUpaya Komprehensif Cegah Kekerasan dan Perundungan

Upaya Komprehensif Cegah Kekerasan dan Perundungan

LDII Kediri, (25/5). Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) gelar pendidikan yang menyeluruh dengan menggelar Pelatihan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dan Perintisan Sekolah Aman, Nyaman, dan Menyenangkan (SANM) 2025.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, 24–25 Mei, di Pondok Pesantren Walibarokah, Kota Kediri. Pelatihan ini diikuti oleh guru, pamong, dan pengurus pesantren secara hybrid (luring dan daring).

Dorongan Positif sebagai Kunci Pencegahan Kekerasan

Psikolog K.M.M. Sofia Sahid, S.Psi., M.Psi., sebagai salah satu narasumber utama, menekankan pentingnya dorongan positif dalam mencegah kekerasan dan perundungan di pesantren. Ia membuka sesi dengan cerita nyata tentang seorang klien yang mengalami trauma akibat bullying di masa remajanya, yang dampaknya masih terasa hingga dewasa.

“Kekerasan yang dialami saat kecil bisa berpengaruh sampai puluhan tahun kemudian. Bahkan orang dewasa berusia 50 tahun masih bisa menangis mengingat trauma masa kecilnya,” ujar Sofia.

Ia mengingatkan bahwa peran orang dewasa di pesantren bukan hanya sebagai pengurus, tapi juga sebagai people helper yang menciptakan rasa aman dan nyaman bagi santri.

Pelatihan Praktis: Kesadaran Diri, Mendengar Aktif, dan Pengelolaan Emosi

Dalam pelatihan, Sofia mengajarkan tiga keterampilan utama dalam menangani kekerasan, yaitu:

1. Kesadaran diri — mengenali perasaan dan reaksi sendiri

2. Mendengar aktif — memberi perhatian penuh saat santri bercerita

3. Pengelolaan emosi — menjaga emosi agar tetap stabil dan positif

Dengan metode yang mudah dipahami dan latihan praktis, peserta diajak meningkatkan kemampuan mendampingi santri dengan empati dan kesabaran.

Pengalaman Peserta: Menghadapi Malu dan Tekanan Sosial

Salah satu peserta, Devi, berbagi pengalaman pribadinya saat gagal ujian yang membuatnya merasa malu dan tertekan oleh lingkungan sekitar. Cerita ini menjadi pelajaran berharga bagi para pendamping untuk lebih peka dalam memahami kondisi psikologis santri.

Mengenali Sinyal Nonverbal dan Teknik Memancing Cerita

Fasilitator webinar juga mengajarkan cara membaca tanda-tanda nonverbal seperti perubahan ekspresi wajah dan perilaku murung. Teknik pertanyaan pemantik, serta penggunaan analogi warna, emotikon, dan kutipan membantu santri lebih mudah mengungkapkan perasaan mereka.

Pendekatan Validasi Emosi

Para pendamping diajarkan untuk memberikan pengakuan tanpa menghakimi dan menciptakan ruang aman agar santri dapat bercerita secara bertahap dan tanpa paksaan.

Penanganan Emosi dan Self-Healing dengan Nilai Spiritual

Pelatihan juga mengenalkan cara pengelolaan emosi yang menggabungkan metode ilmiah dan nilai-nilai Islami, seperti, Berdoa dan istighfar, Wudu sebagai teknik menenangkan diri, Relaksasi dengan air (dive reflex). Sofia menekankan bahwa pendamping harus menjaga ketenangan agar bisa membantu menenangkan santri yang sedang stres. Selain itu, peserta diajarkan cara melepaskan emosi dengan sehat, misalnya memukul guling atau berteriak ke bantal, agar emosi negatif tidak menumpuk dan memicu agresi atau gangguan kesehatan.

Menguatkan Budaya Apresiasi Positif di Pesantren

Sofia dan tim sepakat bahwa memberikan apresiasi positif adalah kunci dalam membangun karakter santri dan mencegah kekerasan. Apresiasi membuat santri merasa dihargai dan memperkuat rasa percaya diri yang membantu mereka terhindar dari perundungan, baik sebagai korban maupun pelaku.

Contoh kalimat apresiasi:

“Terima kasih sudah hadir pengajian meski teman-temanmu tidak datang. Itu bukti semangat dan tanggung jawabmu.”

“Kamu hebat sudah berani mengungkapkan perasaanmu.”

Apresiasi tulus juga mempererat hubungan antara guru dan santri, sekaligus menumbuhkan akhlak mulia dan ketahanan mental.

Dokumentasi dan Deteksi Dini Kasus Kekerasan dan Gangguan Emosi

Pelatihan memperkenalkan formulir evaluasi psikologis untuk mendokumentasikan kasus dengan sistematis. Formulir ini mencatat data identitas, masalah yang dialami, dampak, solusi yang diambil, dan rencana tindak lanjut agar penanganan lebih terstruktur dan berkelanjutan. Peserta juga diajarkan mengenali gejala stres dan gangguan emosi pada santri, seperti menangis terus-menerus, menarik diri, perubahan pola tidur dan makan, hingga perilaku agresif, yang memerlukan perhatian khusus.

LDII Kediri
LDII Kediri
LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) adalah organisasi kemasyarakatan yang fokus membangun karakter profesional religius.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments