LDII Kediri, (1/1). Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan perlindungan dan mencegah masyarakat dari dampak yang lebih besar akibat euforia perayaan malam tahun baru. Dapat dibayangkan, jika tidak ada pengendalian, pesta kembang api, hura-hura, serta berbagai bentuk hiburan yang berlebihan akan meluas tanpa batas. Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak aktivitas pada malam pergantian tahun yang berpotensi melalaikan ibadah dan tidak sejalan dengan nilai-nilai karakter Islami. Oleh karena itu, jauh sebelum malam tahun baru, pengurus remaja LDII telah mewaspadai fenomena tersebut dengan merencanakan kegiatan alternatif yang lebih bermanfaat, yakni pengajian akhir tahun.
Sejumlah peristiwa yang diberitakan media nasional menjadi gambaran nyata potensi kemudaratan perayaan malam tahun baru. Sebagaimana diberitakan Tribunnews, seorang remaja berusia 19 tahun di Kelurahan Demangan meninggal dunia akibat luka tusuk yang diduga dilakukan oleh rekannya sendiri saat terjadi pertikaian di malam pergantian tahun. Masih dari sumber yang sama, aparat Kepolisian di Depok berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis sabu senilai Rp1 miliar menjelang Tahun Baru 2026. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi keprihatinan bersama, terutama bagi orang tua dan tokoh masyarakat, akan ancaman yang mengiringi perayaan tahun baru tanpa kendali.
Berangkat dari realitas tersebut, pengajian akhir tahun yang digelar remaja LDII menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga diri dan lingkungan dari kegiatan yang sia-sia serta berpotensi mendatangkan mudarat. Melalui pengajian ini, remaja diarahkan untuk mengisi malam pergantian tahun dengan aktivitas ibadah, muhasabah, dan peningkatan pemahaman agama.

Dalam pengajian tersebut, remaja LDII ditegaskan untuk memahami dan mengamalkan 29 karakter luhur sebagai pedoman pembentukan akhlak. Selain itu, peserta diajak merenungkan perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Kegiatan ini menanamkan kesadaran bahwa waktu adalah nikmat Allah SWT yang sangat berharga, karena setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Mengisinya dengan amal saleh merupakan wujud rasa syukur kepada-Nya.
Agar pengajian tidak terkesan monoton, panitia mengemas kegiatan dengan konsep keremajaan yang kekinian. Berbagai permainan edukatif dan simulasi nilai karakter dimasukkan ke dalam susunan acara, sehingga remaja dan muda-mudi tetap antusias mengikuti kegiatan hingga selesai. Seluruh rangkaian acara disiapkan melalui musyawarah pengurus remaja yang dilakukan dua hingga tiga kali agar pengajian akhir tahun benar-benar memberi manfaat.
Pilihan pengurus remaja LDII untuk tidak mengikuti tren perayaan malam tahun baru mencerminkan kekuatan karakter dan keteguhan prinsip. Mereka belajar untuk tidak sekadar mengikuti arus mayoritas, tetapi berani memilih jalan yang diridhai Allah SWT. Keteguhan pendirian tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 153:
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
Pergantian tahun sejatinya dimaknai sebagai titik awal perbaikan diri, bukan sekadar pergantian angka kalender. Dengan mengisi malam tahun baru melalui pengajian, remaja LDII telah menunjukkan bahwa pembentukan karakter, ibadah, muhasabah, dan doa merupakan bekal terbaik dalam menyongsong masa depan. Inilah wujud nyata generasi muda yang menjadikan nilai agama sebagai pedoman hidup.


