LDII Kediri, (31/12). Di sebuah sudut pedesaan, hamparan sawah yang tidak begitu luas tampak cukup untuk menghidupi beberapa keluarga petani selama musim panen tiba. Aliran sungai kecil di dekat area persawahan itu membantu petani dalam proses pengairan, sehingga lahan tetap terjaga secara alami. Menariknya, sawah tersebut tidak memerlukan perawatan berlebihan maupun pupuk kimia, karena kesuburan tanahnya masih terpelihara dengan baik.
Namun seiring perkembangan zaman, sebagian petani mulai melakukan perubahan sistem pertanian. Mereka menerapkan pendekatan ilmiah dan mekanisasi, mulai dari pembajakan, penanaman, perawatan hingga masa panen. Pola ini memang membuat proses kerja lebih terukur dan hasil panen dapat diprediksi secara akurat. Bahkan sebelum panen, jumlah gabah dan potensi keuntungan sudah bisa dihitung.
Di sisi lain, penggunaan pupuk dan bahan kimia secara berlebihan berdampak pada menurunnya nilai organik hasil panen serta berisiko terhadap kesehatan tanah dan manusia. Padahal, metode tradisional yang ramah lingkungan tetap mampu memberikan hasil yang menguntungkan, meski membutuhkan ketelatenan dan waktu lebih panjang.
Dari kondisi tersebut, muncul sebuah refleksi bahwa pendekatan terbaik adalah mengombinasikan kearifan lokal dengan pengelolaan profesional, sehingga hasil tetap optimal, bernilai sehat, dan berkelanjutan.
Nilai ini selaras dengan pola pembinaan remaja dan pemuda, khususnya menjelang akhir tahun. Di tengah kecenderungan sebagian kalangan yang memilih hiburan instan tanpa kontrol, hal tersebut justru berpotensi menyeret generasi muda pada perilaku negatif, bahkan melanggar norma sosial dan hukum.
Berbeda dengan itu, remaja dan pemuda LDII mendapatkan pendampingan dari orang tua dan para tetua majelis taklim. Mereka diberi ruang kreativitas untuk mengisi akhir tahun dengan kegiatan positif yang dikemas dalam bentuk pengajian. Meski terkesan klasik, kegiatan ini dipadukan dengan sentuhan kekinian, seperti diskusi interaktif, permainan edukatif, dan cerdas cermat, sehingga tetap menarik dan menyenangkan.
Pada akhir tahun 2025 ini, Ketua DPD LDII Kabupaten Kediri, Agus Sukisno, mengimbau agar momen pergantian tahun dijadikan ajang peningkatan kualitas diri bagi remaja dan pemuda LDII. Ia menekankan empat poin utama kegiatan akhir tahun, yakni melaksanakan amal shalih, menambah ilmu agama, berbakti kepada orang tua, serta melakukan kegiatan yang positif dan produktif.
Berdasarkan informasi dari Sekretariat DPD LDII Kabupaten Kediri, warga LDII di 26 kecamatan se-Kabupaten Kediri secara serentak menggelar pengajian akhir tahun semalam suntuk. Kegiatan tersebut dilaksanakan di masjid, aula, maupun majelis taklim setempat. Dengan demikian, remaja dan pemuda LDII tidak menghabiskan malam pergantian tahun di tempat hiburan, melainkan dalam kegiatan yang membangun karakter, moral, dan spiritual.


