LDII Kediri, (10/5). Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat, sering kali muncul dikotomi yang keliru antara urusan duniawi dan ukhrawi. Namun, KH. Aceng Karimullah dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa esensi keberhasilan seorang hamba terletak pada kesalehan yang bersifat integratif. Ia memaparkan bahwa konsep “Profesional Religius” bukan sekadar slogan, melainkan sebuah metode untuk menguji sejauh mana profil seorang Muslim mampu berdiri tegak dengan kemandirian ekonomi sekaligus tetap tunduk pada aturan Ilahi.
Pesan dakwah ini menekankan bahwa seorang profesional yang memiliki kesalehan tinggi tidak akan memisahkan etos kerjanya dengan nilai-nilai ibadah. Keahlian yang dimiliki harus menjadi sarana untuk berkontribusi bagi kemaslahatan umat. Di sisi lain, kemampuan intelektual dan teknis tanpa landasan kesalehan hanya akan melahirkan sosok yang cakap secara lahiriah namun rapuh secara moral. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi generasi masa kini: membangun kemandirian tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa kesalehan sejati tecermin dalam kemandirian. Seorang santri atau warga yang mandiri secara ekonomi sebenarnya sedang menjalankan perintah agama untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Dengan memiliki kompetensi yang unggul, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk menebar manfaat. Namun, kemandirian tersebut harus dibalut dengan kesalehan agar harta dan kedudukan yang diraih tetap membawa ketenangan batin dan keberkahan.
Ia juga berpesan agar prinsip dakwah yang sejuk dan moderat tetap menjadi garda terdepan. Melalui kesalehan dalam bertutur kata dan bersikap, nilai-nilai Islam akan lebih mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan selama ini bertujuan untuk mencetak pribadi yang “alim-faqih”, berakhlakul karimah, dan mandiri. Karakteristik ini hanya bisa dicapai jika kesalehan telah mendarah daging dalam setiap aktivitas harian.
Sebagai penutup, KH. Aceng Karimullah mengajak kita untuk melakukan reorientasi niat. Mari kita jadikan setiap profesionalisme yang kita geluti sebagai ladang untuk memupuk kesalehan. Dengan demikian, kita tidak hanya sukses dalam pandangan manusia di dunia, tetapi juga meraih derajat kesalehan yang mulia di hadapan Allah SWT, mulai dari Sabang hingga Merauke.


