Thursday, July 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomePendidikanStop Perundungan, Siapkan Anak Sejak Dini

Stop Perundungan, Siapkan Anak Sejak Dini

LDII Kediri, (4/10). Beberapa waktu yang lalu digemakan sekolah ramah anak. Dengan program ini anak bisa merasa nyaman di sekolah. Dalam situasi yang nyaman, mereka bisa bersosialisasi dan menuntut ilmu secara optimal.

Akhir-akhir ini sekolah ramah anak masih jauh panggang dari api. Masih saja banyak berita perundungan/ bullying yang terjadi di negeri ini. Tentu ini memprihatinkan para orang tua dan semua masyarakat.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sepanjang Januari-Agustus 2023 terdapat 379 anak usia sekolah menjadi korban kekerasan fisik dan perundungan di lingkungan sekolah. Salah satu kasus yang menyesakkan dada terjadi di Gresik, Jawa Timur. Seorang siswi kelas 2 SD mengalami buta permanen pada mata kanannya akibat diduga ditusuk oleh kakak kelasnya

Satu lagi seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang juga merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Maghfur Sekapuk menjadi korban perundungan atau bullying oleh sejumlah siswa. Korban yang berinisial A terluka karena dikeroyok.

Untuk mengenal lebih jauh, mari kita cermati tentang perundungan. Perundungan atau bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya. Perundungan juga membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok

Ciri-ciri pelaku bullying, di antaranya tidak memiliki rasa bersalah, kurangnya empati dan seringkali melakukan tindakan berisiko. Hal ini biasanya menyerang seseorang dengan personalitas pasif, pendiam, dan memiliki self-esteem yang rendah.

Tindakan tersebut biasanya dilakukan oleh orang sekitar, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Sehingga perlu mengetahui karakteristik dari pelaku bullying.

Ciri-ciri Pelaku Bullying

Berdasarkan buku Secangkir Kopi Bully Memoar Tentang Bullying dan Secuil Tip Inspiratif, Yanuarty Paresma Elvigro, (2014:5) Sullivan (dalam Trevi, 2010), bullying terbagi menjadi dua bentuk yaitu secara fisik maupun non-fisik. Bullying secara fisik contohnya seperti memukul, menendang, meninju, menggigit, menarik, menjambak rambut, mencakar, meludahi maupun merusak barang-barang milik korban.

Untuk bullying secara non-fisik terbagi menjadi dua yaitu secara verbal maupun non-verbal. Bullying secara verbal contohnya mengancam, memeras, mengancam, berkata-kata keji dan memanggil-manggil dengan sebutan meledek, berkata-kata menekan, menggosip ataupun menyebarluaskan aib korban. Perundungan nonverbal di antaranya mencibir, memelototi dan sebagainya

Korban perundungan tidak mengenal umur dan latar belakang. Oleh karena itu, guna mewaspadai tindakan tersebut terjadi. Kenali ciri-ciri pelaku bullying sebagai langkah pencegahan, sebelum terperangkap dalam dinamika pergaulan yang negatif dan merugikan diri sendiri.

1.Kurang Memiliki Rasa Empati

Ciri-ciri pelaku bullying yang pertama adalah kurangnya rasa empati yang dimiliki. Individu cenderung tidak merasa iba terhadap sesamanya. Maupun memiliki persepsi nilai yang salah terhadap perilaku korban.

2.Memiliki Pola Perilaku Pembuat Onar

Pola perilaku yang menyukai kekerasan, pembuat onar, dan suka mendominasi orang lain merupakan karakter yang melekat pada diri pelaku aksi perundungan.

3. Sikap Menantang

Semua bentuk perundungan baik itu sifatnya ringan hingga berat, tetap saja akan membuat korban tertekan. Sikap menantang dan destruktif, pada umumnya terikat dengan status orang tua terpandang serta mempunyai popularitas di lingkungannya.

4. Melakukan Tindakan Berisiko

Melakukan tindakan berisiko adalah kepribadian yang menonjol dari pelaku bullying. Seringkali seseorang yang melakukan tindakan merendahkan orang lain memiliki agresivitas dan menyukai kekerasan. Hal ini dapat terjadi sebab mengalami kekosongan dan kehampaan spiritual.

5.Tidak Memiliki Rasa Bersalah

Tidak memiliki rasa bersalah dan kerap tidak memedulikan rasa dendam dari korbannya. Pelaku bullying memiliki tendensi suka membanggakan diri serta kurang memahami kebutuhan orang lain. Sehingga tak acuh terhadap kesalahan yang telah diperbuat.

6. Bermasalah dalam Resolusi Amarah

Memiliki rasa dendam, benci, dan frustrasi akan menjadikan kurangnya kontrol terhadap emosi. Seseorang akan cenderung menyalurkan amarah tersebut kepada orang lain. Adapun tindakan yang dilakukan pun beragam mulai dari memperolok, mempermalukan serta melontarkan ejekan kepada korban.

7. Humor yang Tidak Pantas

Pemicu lain yang seringkali tidak disadari sebagai kasus bullying adalah humor yang tidak pantas, sarkastik, dan dapat menyakiti hati. Pada banyak kasus ditemukan, menormalisasi candaan yang berlebihan seringkali terjadi.

Alih-alih meminta maaf, pelaku akan bersikap manipulatif dan memutar balikkan fakta. Dengan anggapan korban tidak bisa memahami humor yang dilontarkan.

Ciri-ciri pelaku bullying bisa saja dimiliki oleh orang-orang yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal. Sebagai tujuan antisipasi sebelum terjebak pada perilaku perundungan perlu melakukan cara membentengi diri agar dapat melawan untuk pembelaan.

Dampak Bullying

Perilaku bullying atau perundungan seperti yang disampaikan di atas memang dapat terjadi di mana saja tanpa memandang usia maupun status korbannya. Banyak contoh perilaku bullying yang terjadi di berbagai setting mulai dari institusi pendidikan, tempat kerja bahkan lingkungan tempat tinggal. Disadari maupun tidak, perundungan memberikan dampak negatif tertentu bagi seluruh pihak yang terlibat, baik korban, pelaku, maupun bystander (saksi).

Korban perundungan atau bullying dapat mengalami beragam hal dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Secara umum, dampak jangka pendek yang dapat ditemukan pada korban bullying, seperti trauma, psikosomatis, rasa marah, depresi, cemas, penurunan prestasi, motivasi menurun hingga pemikiran untuk bunuh diri (“The Long Term Effects of Bullying,” t.t.; Wolke & Lereya, 2015).

Pada jangka panjang, efek dari perundungan dapat berakibat pada berkurang atau tidak mampunyai kemampuan seseorang untuk beradaptasi saat sudah dewasa, seperti kesulitan mempertahankan hubungan romantis dalam jangka panjang, sulit adaptasi saat bekerja dan sebagainya (Wolke & Lereya, 2015).

Sedangkan dari sisi pelaku, perilaku perundungan yang ia lakukan juga dapat berdampak buruk bagi dirinya sendiri, terutama ketika beranjak dewasa. Beberapa di antaranya adalah cenderung lebih banyak terlibat dalam kegiatan kriminal berupa perusakan, penyalahgunaan napza, menjadi sosok yang abusive, dan sebagainya (Assistant Secretary for Public Affairs, 2019).

Dampak bullying tidak hanya pada korban dan pelaku, bystander juga dapat merasakan dampak buruk yang ada. Pada kasus pelajar, dampaknya dapat berupa membolos dan pada konteks yang lebih luas bystander dapat mengalami peningkatan penggunaan napza, rokok, serta mengalami gangguan kesehatan psikologis seperti kecemasan dan depresi maupun fisik (Assistant Secretary for Public Affairs, 2019).

Cara Mengatasi Bullying

Memahami sebuah fenomena rasanya kurang lengkap jika tidak mempelajari cara mencegah bullying dan mengatasinya. Dengan mengetahui cara atau solusi mengatasi bullying, maka diharapkan dapat menentukan langkah yang tepat ketika menemukan atau mengalami perundungan. Secara umum terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk  menghentikan perundungan yang terjadi pada diri sendiri (kita sebagai korban) maupun yang terjadi pada orang lain.

  1. Komunikasikan dengan orang yang terpercaya mengenai perundungan yang dialami, baik kepada atasan, guru, teman, saudara, pasangan, dan sebagainya.
  2. Apabila terjadi di lingkungan formal seperti kantor maupun sekolah, jangan ragu untuk melapor kepada departemen, bagian atau pihak khusus yang dapat dimintai bantuan, seperti bimbingan konseling, wali kelas, bagian atau departemen human resourcesatau Sumber Daya Manusia.
  3. Amy Cooper Hakim dalam Barth (2017) menyampaikan bahwa ketika menghadapi pelaku bullyingkita harus berupaya untuk tampil percaya diri untuk menunjukkan bahwa Anda kuat tanpa harus membalas dengan kekerasan.
  4. Saat berdialog atau menjawab perlakuan pelaku, jawab secara asertif tetapi tanpa emosi untuk menunjukkan bahwa Anda tidak mau dijadikan korban, tidak mau “meminta maaf” atas yang mereka tuduhkan, tetapi juga tidak mencari ribut dengan mereka (Signe Whitson dalam Barth, 2017).
  5. Buat batasan yang jelas atas hal yang bisa diselesaikan secara profesional dan tetap tegas agar perundungan tidak semakin berkembang (Chrissy Scivicque dalam Barth, 2017).
  6. Apabila kondisi semakin tidak kondusif dan ancaman yang ada semakin meningkat, maka jangan pernah ragu untuk mencari bantuan kepada kepolisian untuk mencegah perluasan kekerasan.
  7. Selain itu, carilah bantuan profesional kesehatan baik fisik maupun psikologis jika diperlukan untuk meminimalisir dampaknya.

Apabila Anda tidak mengalami perundungan, tetapi menjadi bystanders maka penting untuk tetap berupaya membantu menghentikan tindakan tersebut. Berikut terdapat beberapa cara untuk membantu menghentikan atau mengatasi perundungan bagi para saksi mata atau bystanders. Beberapa cara yang diberikan pada bagian ini dikembangkan dari artikel Becoming an Upstander to Bullying Just Got Easier! (2018)

  1. Tanyakan tentang perilaku perundungan kepada pelaku, seperti apakah yang ia lakukan benar atau tidak? Adakah dasar tertentu untuk melakukan itu (hukuman yang ada peraturannya dan sebagainya)?
  2. Alihkan perhatian pelaku melalui aktivitas tertentu untuk mengurangi atau mencegah terjadinya perundungan yang semakin tidak terkendali.
  3. Apabila ada orang lain yang turut melihat atau menjadi bystanders, maka dapat bersama-sama untuk menunjukkan kepada perundung bahwa para saksi tidak setuju dengan perilaku mereka.
  4. Hal terpenting adalah dekati korban dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian.
  5. Jika memang tidak bisa secara langsung turut andil, Anda dapat membantu untuk membuat laporan kepada pihak yang berwenang maupun memberikan dukungan kepada korban.

Preventif dalam Menyiapkan Generus yang Kredibel

  1. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif

Lingkungan menjadi persemaian yang baik pada pertumbuhan karakter anak. Oleh karena itu kita perlu mengkondisikan lingkungan menjadi lingkungan yang harmonis atau kondusif. Lingkungan tempat pertumbuhan anak yang paling utama adalah keluarga. Menjadikan keluarga harmonis adalah kewajiban setiap orang tua. Dalam keluarga harmonis akan terwujud komunikasi yang baik antara anggota keluarga. Terwujud pula sikap saling menghargai, rasa empati dan tolong-menolong atau berbagi.

  1. Menanamkan Akhlaqul Karimah atau Karakter Luhur

Sejak dini anaka-anak kita arahkan untuk beraklhaqul karimah. Mempunyai karakter luhur. Biasakan anak-anak untuk rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah, dan hemat. Keenam karakter ini mendasari kepribadian yang baik, yang bisa menghindarkan dari perundungan.

  1. Menguatkan Hati dengan Beladiri

Hati anak-anak harus dikuatkan agar tidak tumbuh menjadi anak yang penakut. Sejak kecil anak-anak sebaiknya tidak ditakut-takuti. Tidak sering dilarang. Sehingga mereka menjadi anak yang kuat hati dan pemberani. Walaupun begitu anak-anak harus terus diarahkan berperilaku yang benar sesuai kaidah yang ada.

Tidak hanya mental saja yang dikuatkan, fisik juga harus dikuatkan. Tidak salah bila anak-anak dikenalkan dan dilatih beladiri. Ini merupakan hal yang baik. Beladiri membantu anak-anak percaya diri. Terampil menjaga diri pada situasi darurat. Berani melawan ketika terjadi perundungan pada dirinya. Tentu saja juga bisa dan mampu membela kehidupan dan keluarganya.

  1. Membekali Anak-anak dengan Ilmu Agama

Jangan biarkan jiwa anak-anak kosong. Isi jiwanya dengan Al-Quran dan Hadits. Sehingga ke depan anak-anak menjadi individu yang religious dan santun dalam menapaki keidupannya.

LDII Kediri
LDII Kediri
LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) adalah organisasi kemasyarakatan yang fokus membangun karakter profesional religius.
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments