LDII Kediri, (17/12). Seminar wawasan kebangsaan menjadi salah satu rangkaian kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) LDII Kota Kediri yang digelar pada Rabu, (17/12), di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kota Kediri. Kegiatan tersebut menghadirkan Ahmad Khoirudin dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Ahmad Khoirudin menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas realitas kemajemukan, baik dari sisi suku, agama, ras, budaya, maupun bahasa. Menurutnya, kebhinekaan tersebut merupakan fakta sosiologis yang tidak terpisahkan dari identitas nasional bangsa Indonesia.
“Menjaga kebhinekaan sekaligus stabilitas nasional merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai forum dialog kebangsaan seperti yang digelar dalam Musda LDII ini sangat strategis dan perlu terus dikembangkan di berbagai momentum. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi yang masif dan potensi menguatnya politik identitas, kehadiran organisasi kemasyarakatan keagamaan menjadi semakin penting.
Ahmad Khoirudin juga menyoroti peran historis ormas dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak masa pra-kemerdekaan hingga era kontemporer, ormas dinilai memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter bangsa melalui bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan umat. Ia menyebut Muhammadiyah, NU, LDII, dan ormas lainnya telah membuktikan peran tersebut secara nyata.
Dalam konteks kebangsaan, ia menjelaskan bahwa ormas memiliki posisi strategis sebagai agen internalisasi nilai-nilai kebangsaan, seperti Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, ormas juga berperan sebagai perekat sosial untuk meredam potensi konflik berbasis identitas serta menjadi kekuatan moral dan etis dalam menjaga keadaban publik.
Ia mengutip pandangan Bung Karno bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempersatukan perbedaan demi mencapai tujuan bersama. Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan di tengah tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, dan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Dari perspektif agama, Ahmad Khoirudin mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa perbedaan diciptakan untuk saling mengenal dan bekerja sama, bukan untuk mempertajam perbedaan hingga menimbulkan perpecahan. Ia menekankan pentingnya menjadikan ajaran agama sebagai sarana pemersatu dan rahmatan lil alamin.
Ia juga menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai kebutuhan mendesak dalam masyarakat majemuk. Moderasi beragama, menurutnya, bukanlah kompromi terhadap akidah, melainkan sikap beragama yang adil, berimbang, dan berkeadilan agar agama tetap menjadi rahmat bagi semesta. Menutup pemaparannya, Ahmad Khoirudin berharap dialog kebangsaan tidak berhenti pada tataran diskursus, tetapi berlanjut pada komitmen dan aksi nyata. Sinergi antara ormas, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi prasyarat utama dalam menjaga kebhinekaan, memperkuat persatuan, dan memastikan stabilitas nasional tetap terjaga, khususnya di Kota Kediri.


